Luka Yang Kamu Rasakan Adalah Sebuah Pesan, Dengarkanlah Mereka.



Pada kenyataannya, kita dapat melewati berbagai situasi sulit bila hati ini dipenuhi dengan optimisme. Pada kenyataannya, kita dapat memenangkan ketentraman bila napas ini kita hidupi dengan doa.

Seperti halnya pohon yang gugur dedaunannya pada musim kemarau dan kembali merimbun pada musim semi, mestinya kita paham bahwa jatuh dan bahagia memang akan silih berganti dalam mengisi kehidupan ini. Berharap bahwa waktu yang dipinjamkan pada kita untuk berada pada dunia ini hanya akan dipenuhi dengan kebahagiaan adalah utopia, pun berpikir bahwa sepanjang hidup hanya akan penuh penderitaan adalah kesalahan. Boleh jadi takdir yang kita miliki dipenuhi dengan lara yang begitu hebatnya, namun kita harus tetap mencintainya.

Berharap untuk tidak ingin bertemu dengan hal-hal yang sekiranya dapat mematahkan angan adalah sesuatu yang paling kerap memenuhi diri kita. Sebuah perasaan yang begitu manusiawi dan sulit untuk ditinggalkan, meski bukan berarti kita tidak dapat menghindarinya. Tetapi, seiring dengan berjalannya waktu terdapat sebuah pemahaman yang perlahan kudapati namun kerap terlewat di antara kita, bahwa pada akhirnya kita harus belajar untuk berdamai dengan setiap cobaan yang datang dan pergi. Ketidakmampuan untuk berdamai dengan cobaan kerap kali menjadi sebab atas serangkai ratapan yang tak berkesudahan, mengaburkan pandangan kita akan kemungkinan-kemungkinan terindah yang dapat diperjuangkan, memupus rasa syukur, bahkan dalam situasi terburuk dapat membuat kita kehilangan segalanya. 

Pada titik di mana semua terasa begitu membingungkan mungkin kita pernah terjatuh pada palung terdalam yang berisi tanda tanya, selaut amarah, kecewa, kecemasan, hingga kelelahan luar biasa terasa ingin membenamkan kita. Perasaan dalam hati begitu terburu-buru untuk pergi dari sana. Padahal jika kita selami lebih dalam akan kita temui berbagai hal yang membuat kita semakin menikmati takdirnya, bahwa setiap lara hadir dengan hikmahnya pun setiap sesak reda dengan caranya. Maka Rumi pernah berkata, "Luka yang kamu rasakan adalah sebuah pesan. Dengarkanlah mereka.".

Dewasa ini, kita kehilangan banyak hal termasuk kesadaran akan pentingnya jeda dalam perjalanan kita. Barangkali perjalanan panjang yang kita lalui terlalu keras dalam membentuk diri ini sehingga energi yang tersisa rasanya hanya dapat digunakan untuk terus melewati setiap kesedihan yang menghampiri begitu saja, atau mungkin sebelumnya kita memang tidak pernah ingin mengerti atas setiap apa yang terjadi. Padahal, kita perlu berkenalan dengannya, kemudian berkawan agar semakin banyak kita dapati hikmah-hikmah dari kesedihan itu untuk lebih mengenali hidup. Sebab, kiranya rasa syukur itu hadir tidak hanya ketika menjumpai bahagia, namun juga duka.

Ketika kita belum mengambil jeda untuk sejenak menemui dialog-dialog terpendam, menyeduh secangkir kopi dengan pelan, menatap langit dengan dalam, dan mengamati kembali satu-persatu situasi sulit yang berhasil kita lalui di masa lalu maka kita tidak akan pernah dapat mengenali kesedihan. Berkawan dengan luka adalah bersedia menyediakan waktu untuk mendengar mereka dengan cara mengamati bagaimana mereka hadir serta berdamai dengan setiap sesaknya. Sehebat apa pun kita berhasil lepas dari situasi sulit, jika kita tidak pernah memahami luka maka tak akan kita dapati maknanya. Padahal perjalanan panjang ini membutuhkan pemahaman mendalam atas setiap yang terjadi agar dapat diharapkan nantinya kita mampu mengutip bagian-bagian terbaik dalam jurnal hidup kita. Maka di sana kita akan semakin mengenali bahagia dan duka, kita akan semakin bijak untuk mengarahkan langkah setelah memahami keduanya.

Maka setelah itu semua, sehebat apa pun jatuh dan setinggi apa pun bahagia kita hanya perlu mengingat paragraf pertama dimana semua kenyataan mungkin tak selamanya menyenangkan dan menangkan, namun akan tetap dapat kita menangkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan Panjang dan Sunyi Menujumu

Fenomena ‘Silaturahmi’ pada Akun Fake Figur Kontroversi: Lahan Basah yang Dipupuk dengan Serbuk Ketidaktahuan

Portal Kontemplasi