Dua Enam
Hari ini adalah kali pertama aku merasakan sesuatu yang berbeda ketika mengikuti prosesi pelepasan siswa, seperti ada begitu banyak hal yang perlu disampaikan, seperti ada begitu banyak perasaan yang tak pernah cukup dibahasakan untuk angkatan pertama yang menjadi bagian dari jurnal hidupku dalam memulai perjalanan mengajar. Barangkali, pada setiap masa tentu memiliki letupan yang berbeda. Tetapi, nyatanya melihat mereka yang duduk dalam satu ruang untuk belajar bersama kita mendiskusikan banyak hal, berbagi tawa, berikut menawar segala ketakutan untuk bermimpi itu berbeda. Barasuara bilang “..Melihatmu bersemi dan bermekaran, tawa candamu berikan kekuatan..” kini terasa begitu nyata, kedalaman untuk merasai setiap detik yang berlalu seakan meminta waktu yang dapat diulang menemui masa lalu.
Namun, hidup akan terus berjalan. Ribuan memori yang terekam dalam setiap keping kenang memenuhi ruang ingat adalah sebuah bara untuk terus percaya, bahwa waktu akan senantiasa memiliki cara yang mungkin tidak pernah terkira betapa berharganya sesuatu sebelum kita selami maknanya. Sempat pada suatu waktu rasa enggan untuk membersamai mereka itu muncul, hingga harus berulangkali mencoba mencari alasan untuk tetap ada. Beruntungnya seiring dengan raga yang tak pernah benar-benar memutuskan pergi, aku menemukan arti yang kucari. Dari sini, aku kembali belajar bahwa boleh jadi sesuatu yang akan begitu kita cintai hanya membutuhkan sedikit lagi upaya untuk memanjangkan sabar, sebelum menemui lapang yang begitu lebar.
Maka, sebagai cara menyatakan rasa syukur yang meski kutahu sebumi terima kasih tetap tidak akan cukup untuk merangkum betapa merasa diberkahinya hati ini, aku mengirimkan sepucuk surat untuk mereka.
Barangkali, Tuhan memberimu kedalaman perasaan bukan hanya untuk sekadar membuatmu tidak takut untuk menghadapi persoalan hidup seorang diri. Namun untuk hadir pada setiap yakin yang tanggal, pada setiap ingin yang rumpang, dan setiap arah yang hilang. Agar kemudian dapat kita rasai setiap waktu hingga membuat kita tak lagi bertanya “Bahagia itu apa?”.
- Tuban, 20 Juni 2026.
Komentar
Posting Komentar