Ikat Aku di Tulang Belikatmu, Simpan Aku di Belakang Gigimu


Kepada setiap hati yang tetap memilih untuk tinggal, terima kasih telah bersedia untuk tetap merawat hangat agar tidak tanggal. Kepada setiap hati yang memilih pergi, semoga di sana tidak menyisakan hutang maaf yang masih perlu kupenuhi. 

Senantiasa bersama atau tidak nantinya, kiranya perjalanan yang pernah kita lalui bersama selalu menyisakan ragam maknanya yang dapat dipetik oleh jiwa. Tentu, aku sadar bahwa perjalanan kita tidak selamanya membahagiakan. Boleh jadi juga banyak sekali cacat yang luruh dariku mengganggu putihnya kanvas yang semestinya dapat dilukis dengan cerita-cerita menyenangkan. Dalam momen-momen tertentu, ingatan akan kesalahan yang lalu mendadak terputar dalam ruang kepala, membawa ribuan amplop hutang maaf yang rasanya tak pernah habis untuk kuisi sesalku untuk kukirimkan pada setiap alamat yang tertulis disana. Namun, aku tahu bahwa setiap hutang rasa tidak selamanya dapat dilunasi. Sebagian dari itu hanya dapat dicukupkan dengan terima kasih, atau maaf, bahkan perasaan pun perilaku yang tak pernah sempat dibahasakan. Hal tersebut terjadi memang bukan karena kata-kata mendadak hilang ditelan burung yang bergegas pulang di ufuk senja. Tetapi memang tidak ada rangkaian kata yang cukup untuk membahasakannya.

Di bawah lengkung langit mana pun pada akhirnya kaki kita berdiri, kurasa kita harus sepakat bahwa cinta tak beriman pada jarak. Aku tahu bahwa berperang dengan jarak yang membentang berisiko besar membuat diri ini mengidap amnesia perihal kita, luasnya langit yang kita pandang dengan dalam, panorama sawah yang bertingkat di dataran tinggi, juga hamparan pasir putih yang bersih di bibir laut mungkin tidak membuat raga kita berjumpa begitu saja. Namun dengan merasai titik-titik keindahan yang selalu ingin kita nikmati itulah, boleh jadi kita bertemu dengan ingatan-ingatan yang akan terus merawat kehangatan di antara kita. Sehingga semua perpisahan raga itu tidak membuat kemurnian rasa kita pupus ditelan antara. Barangkali udara akan semakin menua, suara akan semakin lirih bersama waktu, dan cita-cita yang pernah kita ceritakan tak lagi terkenang. Semoga sekurang-kurangnya yang lalu tak membuat segala yang arif tak sudi kau temu.

Ikatlah aku di tulang belikatmu, simpanlah aku di belakang gigimu. Kupastikan bagaimana pun hebatnya kenyataan menikam ulu hatiku tak akan mampu menggugurheningkan rasaku. Percayalah, setebal apa pun erupsi duka tak akan cukup membunuh damainya kita bersama. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kita Akan Senantiasa Tumbuh Bersama Dengan Setiap Kemalangan yang Kita Alami.

Luka Yang Kamu Rasakan Adalah Sebuah Pesan, Dengarkanlah Mereka.

Gerombolan Patriot Moral Prematur