Sunyi Yang Sengaja Dipilih

Terkadang, seseorang yang mulai beranjak dewasa terjebak oleh kalut berkepanjangan ketika melalui hari-harinya seorang diri. Ketiadaan rasa ditemani oleh seseorang seolah membuat dunia begitu hampa, padahal terkadang kita tidak sedang benar-benar ingin, perlu, atau bahkan butuh atas itu. Keinginan untuk memiliki ruang untuk menerima segala cerita adalah sebuah sisi manusiawi setiap dari kita, tetapi memilih membiarkan perasaan itu menguasai kedamaian hati atau tidak adalah pilihan. Barangkali kasih sayang mengizinkan setiap dari kita untuk menyentuh sisi-sisi paling lembut dari hati, menampilkan rupa-rupa paling bahagia, berikut ikhlas-ikhlas yang tak pernah butuh penjelasan. Namun, saya kira itu semua tidak pernah mungkin hadir jika tidak pernah belajar untuk tidak menggantungkan kebahagiaan selain pada diri kita sendiri. 

Seiring dengan berjalannya waktu saya semakin memahami bahwa boleh jadi kesendirian adalah suatu keputusan yang (sedang) sengaja dipilih, sengaja dinikmati, atau mungkin sengaja dihadapi oleh sebagian orang. Mereka dengan sadar menyusuri jalan panjang dan sunyi tersebut. Bukan karena tidak menginginkan hadirnya seseorang untuk menemani hebatnya perjalanan merengkuh setiap keping mimpi. Jika kita coba selami lebih dalam, tentu kita akan menemukan banyak bentuk alasan yang memampukan mereka memilih itu: kewaspadaan untuk memilih, kesiapan untuk menerima, atau boleh jadi mereka sedang benar-benar belajar bahwa kemampuan untuk menciptakan kedamaian seorang diri adalah sebuah bukti kemampuan mereka untuk mencintai. Pemahaman itulah yang mengantarkan kewaspadaan untuk mempersilakan siapa yang diizinkan hadir dan tidak dalam hidupnya. Sebab jatuh hati mungkin dapat membuat hari kita begitu rapi, sedang patah hati dapat membuat jantung kita seolah hampir mati.


Terdapat satu ungkapan paradoksal dari Erich Fromm yang begitu saya sukai atas fenomena ini, ia mengatakan "Paradoxically, the ability to be alone is the condition for the ability to love.".


The paradox of Solitude and Love : Erich Fromm's Insight on Human  Connection. | by ibrahim ismail | Medium


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Luka Yang Kamu Rasakan Adalah Sebuah Pesan, Dengarkanlah Mereka.

Kita Akan Senantiasa Tumbuh Bersama Dengan Setiap Kemalangan yang Kita Alami.

Dua Enam